Pejalan Kaki Harus Ngalah

Kemarin sore selepas nemenin Farah benerin lensa di pasar kacamata timur alun-alun kota Solo, saya jalan berdua dengan Farah ke taman buku bekas Galamedia. Bau buku bekas selalu sedap di hidung saya. Sugesti memang. Hehe.. Muter dan megang beberapa buku lawas dari lapak depan ke lapak belakang balik ke lapak depan gang sebelah. Setiap ke sini saya paling sering tertarik dengan buku lawas berbahasa Jawa, asal-usul tanah Jawa, raja-raja tanah Jawa, pitutur bahasa Jawa dan beberapa novel bekas. Belum pernah beli sih buku-buku tersebut. Tapi dulu pernah waktu pertama kali kesini khilaf beli buku fotokopian Ipho Santosa (diplastikin). Nyesel tau itu buku bajakan. Pantes aja harganya miring. Ga miring-miring amat sih. Beda sepuluh sampe dua puluh ribuan doang. Sekarang kapok sekapok-kapoknya liat buku plastikan rapi di lapak-lapak tersebut. Ga mau kejebak lagi. Mending beli buku asli walaupun bekas. Mending lagi beli buku asli.. Hehe mihil punyak yah.
Selesai buka-taroh buku bekas, akhirnya Farah kepincut buku tipis seharga tiga ribuan.
Lalu, kami jalan kaki ke masjid Agung untuk sholat Asar. Yang saya suka dari masjid Agung ini airnya melimpah ruah, seger, berasa pengen kungkum mandi kembang disana. 😀 Oya, saat masuk ke ruangan masjid jamaah wanita terlihatlah atap biru langitnya yang menarik perhatian saya. Jejeran kayu panjangnya seakan menyingkirkan fungsi plafon. Tertata rapi dan rapat. Pintu kecil berpagar khas keraton juga nampak memberi kekhasan saat mata tertuju depan shaf sholat. Dan tak lupa cermin-cermin dengan ornamen kayu kuno berukir semakin mempercantik dinding atas sebelah kiri. Hihi.. Perempuan dari jaman kuno sampai hari ini tak pernah jauh dari cermin ya 🙂
Sudah sore, kami pulang. Tentunya jalan kaki dong ya. Entah kenapa sebagai pejalan kaki, saya tak menikmati fungsi trotoar sebenarnya. Mulai dari dipakai mangkal becak, dipakai jualan, dijadikan parkiran. Huft.. Ngalah jalan kaki di badan jalan deh. Badan jalan pun tak kalah dijadikan lahan parkir mobil sementara. Nyampe belokan depan alun-alun (arah saya ke utara), saya dimarahi tukang becak karena ga dengerin ‘klakson’ becak dari belakang. Bisa jadi si tukang becak memang ga tau aturan perlalulintasan. Jadi ya njeplak semaunya. Yasudah saya minta maaf. Muka si bapak langsung lempeng, diam ga ngomong apa-apa lagi. Omaigat, saya jadi mikir.. Ini sebenernya salah siapa? Pemkot? Tata kota? Apa si penjual yang naroh lapaknya sampai trotoar? Tukang becak yang mangkal? Hak pejalan kaki ditaroh mana ini bos?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s